Rifani Hutami Supardi
Universitas Muhammadiyah Manado

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Identification of Bioactive Compounds from Cocoa Fruit Skin ( Theobroma Cacao L.) with Variations in Solvent Polarity Properties Ahlan Sangkal; Julia Megawati Djamal; Rifani Hutami Supardi
International Journal Of Health Science Vol. 5 No. 2 (2025): International Journal of Health
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/ijhs.v5i2.5676

Abstract

Bioactive compounds are chemical compounds formed through metabolic processes in plants, contributing to their beneficial properties. Cocoa fruit, derived from 22 cultivated Theobroma species, contains a variety of bioactive compounds that offer several health benefits. Identifying these bioactive compounds in plants can be achieved through extraction using various solvents, depending on their polarity properties. This study aims to explore the content of bioactive compounds in dried cocoa fruit peel (Theobroma cacao L.) extract, focusing on variations in solvent polarity. The results of the study showed that the 96% ethanol extract (polar solvent) of cocoa fruit peel contained a range of bioactive compounds, including flavonoids, tannins, alkaloids, and saponins. Ethanol, being a polar solvent, effectively extracted a variety of bioactive compounds due to its ability to dissolve polar substances. This extract is significant due to its wide range of potential health benefits attributed to the presence of flavonoids, tannins, alkaloids, and saponins, all known for their antioxidant, antimicrobial, and anti-inflammatory properties. Additionally, the acetone extract (semi-polar solvent) of cocoa fruit peel also contained alkaloids, flavonoids, tannins, and saponins. Acetone, as a semi-polar solvent, was able to extract a variety of compounds with moderate polarity, making it a versatile solvent for bioactive compound extraction. The presence of alkaloids and saponins in this extract indicates its potential use for various medicinal purposes. On the other hand, the n-Hexane extract (non-polar solvent) of cocoa fruit peel produced primarily alkaloids and terpenoids. Hexane, being non-polar, tends to extract non-polar compounds, which include alkaloids and terpenoids known for their various biological activities. In conclusion, the study demonstrates the varying effectiveness of solvents with different polarities in extracting bioactive compounds from cocoa fruit peel, which can be utilized for health-promoting purposes.
ANALISIS KUALITATIF KANDUNGAN MERKURI PADA SEDIAAN KOSMETIK (KRIM WAJAH) Rifani Hutami Supardi; Putri Tsabitah Reyhan; Mufidah Harun; Rastika Dwi Faiza Kuyotok; Rico Hermanses Joseph; Rosmala Musa; Syahrany Aulya Karim
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 4 (2026): Agustus: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i4.11786

Abstract

Peredaran krim pemutih wajah yang semakin luas meningkatkan risiko beredarnya produk kosmetik yang mengandung bahan berbahaya, salah satunya merkuri (Hg), yang penggunaannya dilarang karena bersifat toksik bagi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi secara kualitatif kandungan merkuri pada sediaan kosmetik krim wajah menggunakan metode reaksi warna dengan pereaksi kalium iodida (KI). Penelitian dilakukan secara eksperimental laboratorium dengan pendekatan analisis kualitatif. Sampel kosmetik didestruksi menggunakan aqua regia, kemudian disaring untuk memperoleh larutan uji. Selanjutnya, sebanyak 5 mL larutan uji direaksikan dengan 1–2 tetes larutan kalium iodida 0,5 N dan diamati perubahan yang terjadi. Hasil pengujian menunjukkan terbentuknya endapan berwarna merah jingga setelah penambahan pereaksi KI, yang menandakan hasil positif adanya kandungan merkuri. Endapan tersebut merupakan senyawa merkuri(II) iodida (HgI₂) yang terbentuk akibat reaksi antara ion Hg²⁺ dengan ion iodida. Temuan ini menunjukkan bahwa sampel kosmetik yang diuji mengandung merkuri sehingga tidak memenuhi persyaratan keamanan kosmetik. Metode analisis kualitatif menggunakan pereaksi kalium iodida terbukti sederhana, cepat, dan efektif sebagai uji skrining awal untuk mendeteksi keberadaan merkuri pada produk kosmetik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam meningkatkan pengawasan terhadap peredaran kosmetik serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan produk yang telah memenuhi standar keamanan.
UJI KUALITATIF KANDUNGAN MERKURI PADA SEDIAAN KOSMETIK Rifani Hutami Supardi; Khumairah A Hasan; Salsabila Putri Handayani; Stevanus Pangemanan
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 4 (2026): Agustus: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i4.11810

Abstract

Merkuri adalah logam berat berbahaya yang dilarang penggunaannya dalam produk kosmetik karena dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk iritasi kulit, kerusakan ginjal, dan gangguan sistem saraf. Namun, produk kosmetik yang diduga mengandung merkuri masih ditemukan di pasaran, sehingga pengujian keamanan menjadi perlu. Studi ini bertujuan untuk menentukan secara kualitatif keberadaan merkuri dalam sediaan kosmetik menggunakan reagen Kalium Iodida (KI) 0,5 N. Empat sampel kosmetik dianalisis setelah dicerna dengan aqua regia, diikuti dengan penambahan larutan KI 0,5 N. Hasil positif ditunjukkan oleh pembentukan endapan berwarna merah-oranye karena pembentukan merkuri(II) iodida (HgI₂), sedangkan hasil negatif ditunjukkan oleh tidak adanya pembentukan endapan. Hasil menunjukkan bahwa satu dari empat sampel yang diuji positif mengandung merkuri, sedangkan tiga sampel lainnya negatif. Pembentukan endapan berwarna merah-oranye pada sampel positif menunjukkan adanya ion merkuri (Hg²⁺) yang bereaksi dengan ion iodida (I⁻), sedangkan tidak adanya endapan pada sampel negatif menunjukkan bahwa merkuri tidak terdeteksi oleh metode kualitatif yang digunakan. Dapat disimpulkan bahwa uji kualitatif menggunakan Kalium Iodida (KI) 0,5 N merupakan metode skrining yang sederhana dan efektif untuk mendeteksi merkuri dalam sediaan kosmetik, dengan satu sampel positif dan tiga sampel negatif terhadap merkuri.
ANALISIS KUALITATIF KANDUNGAN RHODAMIN B PADA SEDIAAN KOSMETIK LIPSTIK (X) YANG ADA DI PASARAN KOTA MANADO Rifani Hutami Supardi; Sisilia Aiba; Deanisyah Suruhama; Ajeng D. Cahayu; Naysila Tampolo; Puja I. Wakadu
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 4 (2026): Agustus: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i4.11812

Abstract

Rhodamin B merupakan zat warna sintetis yang dilarang penggunaannya dalam sediaan kosmetik karena bersifat toksik dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan Rhodamin B pada sediaan kosmetik menggunakan metode uji pendahuluan dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Uji pendahuluan dilakukan dengan mengekstraksi sampel menggunakan metanol, kemudian diamati adanya fluoresensi di bawah cahaya matahari dengan latar belakang hitam. Selanjutnya dilakukan uji konfirmasi menggunakan metode KLT dengan membandingkan nilai Retardation Factor (Rf) antara sampel dan baku Rhodamin B. Hasil uji pendahuluan menunjukkan adanya fluoresensi kuning kehijauan yang mengindikasikan dugaan adanya Rhodamin B. Pada pengujian KLT diperoleh nilai Rf sampel sebesar 0,63, sedangkan nilai Rf baku Rhodamin B sebesar 0,62, dengan selisih sebesar 0,01. Kesamaan nilai Rf serta karakteristik bercak antara sampel dan baku menunjukkan bahwa sampel positif mengandung Rhodamin B. Berdasarkan hasil penelitian, metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dapat digunakan sebagai metode identifikasi kualitatif Rhodamin B pada sediaan kosmetik dan mampu mengonfirmasi hasil uji pendahuluan.
Analisis Kualitatif Kandungan Merkuri dalam Sediaan Kosmetik Rifani Hutami Supardi; Sekar Ayu Pratiwi; Salwa Arini Gani; Bunga Djumaati; Naysila Ayriza Neu; Siti Magfira Yusup; Wulan Dwi Makaminan
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 5 (2026): Oktober: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i5.11949

Abstract

Merkuri merupakan logam berat berbahaya yang dilarang penggunaannya dalam sediaan kosmetik karena dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, seperti iritasi kulit, kerusakan ginjal, gangguan sistem saraf, hingga efek toksik akibat akumulasi dalam tubuh. Meskipun demikian, masih ditemukan produk kosmetik yang diduga mengandung merkuri sehingga diperlukan pengujian untuk menjamin keamanan produk. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi secara kualitatif kandungan merkuri pada sediaan kosmetik menggunakan metode reaksi warna dengan pereaksi Kalium Iodida (KI) 0,5 N. Sampel kosmetik FYC–Yessica's 6IN1 Crystal Glowing Cream With SPF 30 didestruksi menggunakan aqua regia, kemudian filtrat yang diperoleh direaksikan dengan larutan KI 0,5 N. Hasil positif ditandai dengan terbentuknya endapan merah jingga sebagai indikasi terbentuknya merkuri iodida (HgI₂). Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah penambahan pereaksi KI 0,5 N, larutan sampel berwarna kuning bening hingga kuning pucat, tetap jernih, dan tidak terbentuk endapan merah jingga. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sampel memberikan hasil negatif terhadap kandungan merkuri secara kualitatif. Dengan demikian, berdasarkan metode reaksi warna yang digunakan, sampel kosmetik yang diuji tidak terindikasi mengandung merkuri sehingga relatif aman dari aspek kandungan logam berat tersebut. Metode uji kualitatif menggunakan pereaksi KI 0,5 N dapat dimanfaatkan sebagai skrining awal yang sederhana, cepat, dan mudah dalam mendeteksi keberadaan merkuri pada produk kosmetik sebelum dilakukan analisis lanjutan menggunakan metode instrumental.
PENETAPAN KADAR ASAM SALISILAT DENGAN METODE ALKALIMETRI Rifani Hutami Supardi; Rosalina Husaleka; Ajeng Dwi Cahayu; Dini Amalia; Shalwa Inayah Isima
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 5 (2026): Oktober: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i5.12062

Abstract

Penetapan kadar zat aktif merupakan salah satu tahapan penting dalam pengendalian mutu sediaan farmasi dan kosmetik untuk menjamin keamanan, kualitas, dan efektivitas produk. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar asam salisilat dalam sampel bedak menggunakan metode alkalimetri serta membandingkan hasilnya dengan persyaratan yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Metode yang digunakan adalah titrasi alkalimetri menggunakan larutan baku natrium hidroksida (NaOH) yang terlebih dahulu dibakukan dengan kalium biftalat (KHP), sedangkan titik akhir titrasi ditentukan menggunakan indikator fenolftalein. Sampel dilarutkan dalam etanol yang telah dinetralkan dan dititrasi hingga terjadi perubahan warna menjadi merah muda. Hasil pembakuan menunjukkan normalitas larutan NaOH sebesar 0,0816 N. Penetapan kadar asam salisilat pada sampel bedak menghasilkan kadar sebesar 3,067%, sehingga melebihi batas maksimum yang diizinkan BPOM untuk sediaan kosmetik, yaitu 2%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sampel belum memenuhi persyaratan keamanan. Perbedaan hasil dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti penetralan etanol yang kurang sempurna, kesalahan pembacaan buret, serta ketidaktepatan dalam menentukan titik akhir titrasi. Oleh karena itu, metode alkalimetri dapat digunakan untuk penetapan kadar asam salisilat, namun pelaksanaannya harus dilakukan secara teliti agar diperoleh hasil yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan
PENETAPAN KADAR ASETOSAL DENGAN METODE ASIDI-ALKALIMETRI Rifani Hutami Supardi; Felisity Glory Hippi; Naysila Tampolo; Alisya Halizah; Deanisyah Suruhama
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 5 (2026): Oktober: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i5.12088

Abstract

Penetapan kadar zat aktif merupakan salah satu tahapan penting dalam pengendalian mutu sediaan farmasi untuk menjamin keamanan, efektivitas, dan kualitas obat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar asetosal dalam sediaan tablet menggunakan metode asidi-alkalimetri serta memberikan pemahaman mengenai penerapan analisis kuantitatif dalam pengujian mutu obat. Metode yang digunakan adalah titrasi balik (back titration), yaitu mereaksikan sampel asetosal dengan larutan natrium hidroksida (NaOH) berlebih, kemudian menitrasi sisa NaOH menggunakan larutan baku asam klorida (HCl) dengan indikator fenolftalein. Percobaan juga dilakukan terhadap larutan blanko sebagai pembanding. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa volume HCl yang digunakan pada sampel sebesar 10,3 mL, sedangkan pada blanko sebesar 12,6 mL. Selisih volume tersebut menunjukkan bahwa sebagian NaOH telah bereaksi dengan asetosal sehingga kadar zat aktif dapat ditentukan melalui perhitungan titrimetri. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna larutan dari merah muda menjadi tidak berwarna. Metode asidi-alkalimetri terbukti sederhana, cepat, dan memiliki ketelitian yang baik apabila seluruh tahapan analisis dilakukan sesuai prosedur. Ketelitian dalam penimbangan sampel, pembacaan buret, pemanasan, serta penentuan titik akhir titrasi menjadi faktor penting yang memengaruhi keakuratan hasil penetapan kadar. Hasil analisis selanjutnya dapat dibandingkan dengan persyaratan Farmakope Indonesia sebagai dasar penilaian mutu sediaan tablet asetosal
Analisis Kuantitatif Asam Salisilat Pada Sediaan Bedak Menggunakan Metode Titrasi Alkalimetri Rifani Hutami Supardi; Putri Tsabitah Reyhan; Mufidah Harun; Rastika Dwi Faiza Kuyotok; Rico Hermanses Joseph; Rosmala Musa; Syahrany Aulya Karim
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 5 (2026): Oktober: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i5.12103

Abstract

Asam salisilat merupakan salah satu bahan aktif yang banyak digunakan dalam sediaan farmasi topikal karena memiliki aktivitas keratolitik dan antimikroba. Ketepatan kadar asam salisilat perlu dikendalikan untuk menjamin mutu, keamanan, dan efektivitas produk. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kuantitatif asam salisilat pada sediaan bedak menggunakan metode titrasi alkalimetri. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium yang diawali dengan pembakuan larutan natrium hidroksida (NaOH) menggunakan kalium hidrogen ftalat (KHP) sebagai baku primer, kemudian dilanjutkan dengan penetapan kadar asam salisilat menggunakan indikator fenolftalein. Analisis dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan (triplo). Hasil pembakuan menunjukkan bahwa larutan NaOH memiliki normalitas sebesar 0,1036 N. Volume NaOH yang digunakan pada tiga kali titrasi berturut-turut adalah 21,0 mL, 20,9 mL, dan 21,0 mL dengan volume rata-rata 20,97 mL. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh kadar asam salisilat sebesar 2,00%, sesuai dengan kadar yang tercantum pada etiket produk. Berdasarkan hasil penelitian, metode titrasi alkalimetri menunjukkan kinerja analisis yang baik dalam penetapan kadar asam salisilat, yang ditunjukkan oleh normalitas titran yang memenuhi kebutuhan analisis, konsistensi hasil pengulangan, serta kesesuaian kadar asam salisilat yang diperoleh dengan kadar yang tercantum pada etiket produk.