Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENETAPAN KADAR ASAM SALISILAT DENGAN METODE ALKALIMETRI Rifani Hutami Supardi; Rosalina Husaleka; Ajeng Dwi Cahayu; Dini Amalia; Shalwa Inayah Isima
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 5 (2026): Oktober: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i5.12062

Abstract

Penetapan kadar zat aktif merupakan salah satu tahapan penting dalam pengendalian mutu sediaan farmasi dan kosmetik untuk menjamin keamanan, kualitas, dan efektivitas produk. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar asam salisilat dalam sampel bedak menggunakan metode alkalimetri serta membandingkan hasilnya dengan persyaratan yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Metode yang digunakan adalah titrasi alkalimetri menggunakan larutan baku natrium hidroksida (NaOH) yang terlebih dahulu dibakukan dengan kalium biftalat (KHP), sedangkan titik akhir titrasi ditentukan menggunakan indikator fenolftalein. Sampel dilarutkan dalam etanol yang telah dinetralkan dan dititrasi hingga terjadi perubahan warna menjadi merah muda. Hasil pembakuan menunjukkan normalitas larutan NaOH sebesar 0,0816 N. Penetapan kadar asam salisilat pada sampel bedak menghasilkan kadar sebesar 3,067%, sehingga melebihi batas maksimum yang diizinkan BPOM untuk sediaan kosmetik, yaitu 2%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sampel belum memenuhi persyaratan keamanan. Perbedaan hasil dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti penetralan etanol yang kurang sempurna, kesalahan pembacaan buret, serta ketidaktepatan dalam menentukan titik akhir titrasi. Oleh karena itu, metode alkalimetri dapat digunakan untuk penetapan kadar asam salisilat, namun pelaksanaannya harus dilakukan secara teliti agar diperoleh hasil yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan
IDENTIFIKASI BAHAN KIMIA OBAT (BKO) DALAM SEDIAAN JAMU MENGGUNAKAN KLT Rifani Hutami Supardi; Putri Nabila Assegaf; Alisya Halizah; Rosalina Husaleka
JURNAL ILMIAH RESEARCH STUDENT Vol. 3 No. 2 (2026): September
Publisher : KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jirs.v3i2.11811

Abstract

Peredaran jamu yang mengandung Bahan Kimia Obat (BKO) masih menjadi permasalahan dalam pengawasan obat tradisional di Indonesia karena dapat membahayakan kesehatan masyarakat. Salah satu BKO yang sering ditemukan pada sediaan jamu pegal linu adalah parasetamol yang sengaja ditambahkan untuk memberikan efek analgesik secara cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan BKO pada sediaan jamu menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Sampel jamu dianalisis dengan menggunakan silika gel 60 F254 sebagai fase diam dan campuran etil asetat, kloroform, serta n-heksana sebagai fase gerak. Larutan baku pembanding dan sampel ditotolkan pada plat KLT, kemudian dielusi dan diamati di bawah sinar UV 254 nm untuk menentukan nilai faktor retensi (Rf). Hasil analisis menunjukkan bahwa sampel jamu menghasilkan tiga bercak dengan nilai Rf berturut-turut sebesar 0,57; 0,65; dan 0,85. Nilai Rf bercak pertama mendekati nilai Rf baku pembanding parasetamol sehingga mengindikasikan adanya dugaan kandungan BKO berupa parasetamol pada sampel jamu, sedangkan dua bercak lainnya diduga berasal dari senyawa lain yang terdapat dalam sediaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Kromatografi Lapis Tipis mampu digunakan sebagai metode skrining kualitatif yang sederhana, cepat, dan ekonomis untuk mendeteksi keberadaan BKO pada produk jamu. Pengawasan secara berkelanjutan terhadap obat tradisional perlu terus ditingkatkan guna menjamin keamanan, mutu, dan perlindungan konsumen dari peredaran produk yang tidak memenuhi persyaratan