Industri plastik injeksi masih menghadapi persoalan defect yang lolos ke customer, seperti pada PT. Citra Plastik Makmur yang mencatat 13 klaim dan 150 pcs defect selama Oktober–Desember 2025. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi defect dominan dan penyebabnya, menentukan prioritas risiko, serta menyusun usulan perbaikan melalui integrasi Six Sigma dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan tahapan DMAIC, didukung diagram pareto, fishbone, dan perhitungan Risk Priority Number. Hasil penelitian mengidentifikasi empat defect dominan—penyok, salah label, chipping, dan salah fisik—dengan total 126 defect dari 25.399 produk dan rata-rata level sigma 3,82; salah label dan salah fisik menjadi prioritas risiko tertinggi. Penyebab defect mencakup proses injection molding, handling, packaging, dan supply yang belum terstandarisasi. Integrasi Six Sigma dan FMEA terbukti efektif menyusun prioritas perbaikan, dengan implikasi praktis berupa penguatan verifikasi, pedoman pemeriksaan, dan standarisasi kerja untuk pengendalian kualitas berkelanjutan.
Copyrights © 2026