Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan, mengeksplorasi, dan mendeskripsikan etnis Tionghoa-Jawa dalam membangun peradaban dan juga faktor penghambat dan pendukungnya. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan interdisipliner, yakni pendekatan cultural pluralism dan dengan jenis penelitian analisis budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etnis Tionghoa-Jawa di Tulungagung, Kediri, dan Blitar membentuk pola yang saling berkaitan antara silang budaya lokal, hiperealitas, dan komodifikasi. Dalam konteks silang budaya lokal, pergerakan budaya etnis Tionghoa-Jawa berlangsung melalui dua ruang yaitu ruang publik dan ruang privat. Ruang publik menjadi arena bagi ekspresi budaya yang bersifat sosial seperti ekonomi, kesenian, dan komunikasi, sedangkan praktik yang berkaitan dengan kepercayaan dan ritual keagamaan tetap dilaksanakan dalam ruang privat. Hiperealitas muncul melalui konstruksi masyarakat non-etnis terhadap identitas Tionghoa-Jawa yang sering kali tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas keseharian. Pola hiperrealitas ini menunjukkan bahwa identitas etnis Tionghoa-Jawa tidak hanya dibangun dari dalam komunitas, tetapi juga dari persepsi sosial yang dilekatkan oleh masyarakat sekitarnya. Komodifikasi menjadikan elemen budaya Tionghoa-Jawa sebagai komoditas yang dapat dipertunjukkan, dijual, atau dikonsumsi. Faktor penghambat etnis Tionghoa-Jawa dalam membangun sebuah peradaban meliputi penyebutan mayoritas maupun minoritas dan sikap intoleransi. Sedangkan faktor pendukungnya meliputi adanya kegiatan sosial dan sikap toleransi. Implikasi penelitian yaitu menekankan pentingnya membangun peradaban etnis Tionghoa-Jawa melalui penguatan silang budaya, merekonstruksi identitas untuk menghindari hiperealitas, pengelolaan komodifikasi secara bijak, dan menumbuhkan toleransi.
Copyrights © 2026