Muhamad Khusnul Ariefin
UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Silang Budaya Lokal, Hiperealitas, dan Komodifikasi Identitas Tionghoa-Jawa di Tulungagung, Kediri, dan Blitar Nurul Baiti Rohmah; Rizal Zamzami; Muhamad Khusnul Ariefin
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 15 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v15i1.108981

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan, mengeksplorasi, dan mendeskripsikan etnis Tionghoa-Jawa dalam membangun peradaban dan juga faktor penghambat dan pendukungnya. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan interdisipliner, yakni pendekatan cultural pluralism dan dengan jenis penelitian analisis budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etnis Tionghoa-Jawa di Tulungagung, Kediri, dan Blitar membentuk pola yang saling berkaitan antara silang budaya lokal, hiperealitas, dan komodifikasi. Dalam konteks silang budaya lokal, pergerakan budaya etnis Tionghoa-Jawa berlangsung melalui dua ruang yaitu ruang publik dan ruang privat. Ruang publik menjadi arena bagi ekspresi budaya yang bersifat sosial seperti ekonomi, kesenian, dan komunikasi, sedangkan praktik yang berkaitan dengan kepercayaan dan ritual keagamaan tetap dilaksanakan dalam ruang privat. Hiperealitas muncul melalui konstruksi masyarakat non-etnis terhadap identitas Tionghoa-Jawa yang sering kali tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas keseharian. Pola hiperrealitas ini menunjukkan bahwa identitas etnis Tionghoa-Jawa tidak hanya dibangun dari dalam komunitas, tetapi juga dari persepsi sosial yang dilekatkan oleh masyarakat sekitarnya. Komodifikasi menjadikan elemen budaya Tionghoa-Jawa sebagai komoditas yang dapat dipertunjukkan, dijual, atau dikonsumsi. Faktor penghambat etnis Tionghoa-Jawa dalam membangun sebuah peradaban meliputi penyebutan mayoritas maupun minoritas dan sikap intoleransi. Sedangkan faktor pendukungnya meliputi adanya kegiatan sosial dan sikap toleransi. Implikasi penelitian yaitu menekankan pentingnya  membangun peradaban  etnis Tionghoa-Jawa  melalui penguatan silang budaya, merekonstruksi identitas untuk menghindari hiperealitas, pengelolaan komodifikasi secara bijak, dan menumbuhkan toleransi.