Penelitian deskriptif-kualitatif dengan pendekatan fenomenologi ini berhasil mengeksplorasi konstruksi makna budaya "Maja Labo Dahu"—falsafah lokal Bima yang mengintegrasikan ajaran Islam dan norma adat mengenai rasa malu dan takut—sebagai instrumen kontrol moral bagi pimpinan Perangkat Daerah di Kota Bima. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ini terinternalisasi dalam empat dimensi utama birokrasi: sebagai bagian dari sistem kerja yang meningkatkan etos dan disiplin aparatur, sebagai nilai kepercayaan yang menjaga integritas dan eksistensi pelayanan publik, sebagai pemandu target kerja agar tetap transparan dan sesuai regulasi, serta sebagai wujud kekeluargaan melalui prinsip karawi kaboju (gotong-royong) dalam kerja tim. Dengan demikian, penguatan kembali falsafah ini menjadi sangat krusial sebagai landasan etika birokrasi guna mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan berintegritas di Kota Bima.
Copyrights © 2026