Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan metodologi tafsir maqāṣidī dalam studi Al-Qur'an kontemporer, yang di satu sisi menawarkan fleksibilitas kontekstualisasi makna, namun di sisi lain masih menyisakan ambiguitas epistemologis, elastisitas konsep, dan risiko subjektivitas interpretatif penafsir. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan secara kritis dan merumuskan batasan-batasan metodologis yang melekat pada paradigma tafsir maqāṣidī saat ini. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui teknik analisis isi (content analysis) serta analisis komparatif-kritis. Sumber data primer bersumber dari karya tokoh kunci tafsir maqāṣidī (al-Syāṭibī, Ibn ‘Āsyūr, Jasser Auda, Wasfi Asyur, dan Abdul Mustaqim), sedangkan sumber sekunder berupa publikasi ilmiah kritis mutakhir dalam rentang waktu lima tahun terakhir (2021–2026). Penelitian ini berhasil merumuskan lima batasan metodologis utama yang mencakup aspek konseptual (elastisitas makna maqāṣid), epistemologis (ketidakjelasan posisi di antara paradigma tafsir), prosedural (kurangnya detail langkah operasional untuk menjamin replikasi), validitas-otoritatif (ketiadaan kriteria pengujian kompetensi mufasir), serta relasi teks-tujuan (risiko reduksi otoritas naṣṣ demi kemaslahatan). Hasil analisis menyimpulkan bahwa guna mengatasi fragmentasi dan transisi paradigmatik ini, diperlukan integrasi terstruktur antara pendekatan maqāṣid klasik, pendekatan sistem, dan kerangka kontekstual-tematik agar tafsir maqāṣidī berkembang menjadi metodologi penafsiran yang ilmiah, kredibel, dan akuntabel secara akademik.
Copyrights © 2026