Nilai-nilai adat Tiga Tungku (Likat Telo) merupakan sistem sosial yang mengatur relasi kekerabatan dan harmoni sosial masyarakat Lamaholot di Desa Ile Padung melalui prinsip Opu Belake dan Muro (ikan ayam). Namun, dinamika modernisasi dan perubahan sosial berdampak pada melemahnya pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai adat tersebut. Pendidikan formal memiliki peran strategis dalam mentransmisikan nilai budaya lokal melalui mekanisme pendidikan yang tidak hanya bersifat kurikuler, tetapi juga kultural. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi implementasi nilai-nilai adat Tiga Tungku dalam pendidikan formal di Desa Ile Padung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis etnografi dan dianalisis menggunakan model implementasi kebijakan George C. Edwards III yang meliputi aspek komunikasi, sumber daya, disposisi pelaksana, dan struktur birokrasi. Hidden curriculum diposisikan sebagai strategi implementatif dalam internalisasi nilai adat melalui budaya sekolah, keteladanan guru, dan interaksi sosial peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi nilai adat Tiga Tungku berlangsung secara implisit dan berkelanjutan melalui praktik pendidikan sehari-hari di sekolah. Keberhasilan strategi implementasi sangat ditentukan oleh konsistensi komunikasi nilai budaya, komitmen pelaksana, serta dukungan kelembagaan sekolah dan masyarakat adat. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kebijakan sekolah berbasis budaya lokal sebagai upaya pelestarian nilai-nilai adat dalam pendidikan formal.
Copyrights © 2026