Kondisi fatherless dapat memengaruhi perkembangan psikologis remaja laki-laki, salah satunya terkait dengan subjective well-being. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam meningkatkan subjective well-being adalah penerimaan diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penerimaan diri dan subjective well-being pada remaja laki-laki fatherless. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 126 remaja laki-laki berusia 12–18 tahun yang mengalami kondisi fatherless dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala penerimaan diri, Satisfaction with Life Scale (SWLS), dan Scale of Positive and Negative Experience (SPANE). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara penerimaan diri dan subjective well-being (r = 0,463; p < 0,001). Selain itu, sebagian besar responden memiliki tingkat penerimaan diri (72,2%) dan subjective well-being (65,1%) pada kategori sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi penerimaan diri yang dimiliki remaja laki-laki fatherless, semakin tinggi pula tingkat subjective well-being yang mereka rasakan. Dengan demikian, penerimaan diri merupakan salah satu faktor yang berperan dalam meningkatkan kesejahteraan subjektif pada remaja laki-laki fatherless.
Copyrights © 2026