Penelitian ini mengkaji kehidupan sosial masyarakat etnis Tionghoa di Kampung Banyu Urip Wetan, Surabaya, pada masa Orde Baru (1967–1998), dengan fokus pada komunitas yang bermukim di Gedung Setan (Spookhuis). Penelitian bertujuan menganalisis kebijakan Orde Baru terhadap etnis Tionghoa, kehidupan sosial komunitas tersebut, serta pola ikatan persaudaraan dan solidaritas sebagai strategi bertahan hidup. Metode yang digunakan adalah metode sejarah (heuristik, verifikasi, interpretasi, historiografi) dengan pendekatan sejarah sosial, melalui studi pustaka, penelusuran arsip, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan Orde Baru bersifat sistematis dan multidimensional, namun komunitas Gedung Setan justru membangun solidaritas internal, ekosistem ekonomi komunal berbasis home industry kue tradisional, dan hubungan harmonis dengan warga lokal berbasis toleransi dan saling melindungi, yang menjadi strategi bertahan hidup sekaligus medium pelestarian identitas budaya.
Copyrights © 2026