Penelitian ini mengkaji persepsi orang tua terhadap pendidikan formal dalam konteks anak yang putus sekolah di Desa Pulau Enam, Kecamatan Togean. Desa ini merupakan kawasan kepulauan terpencil di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Fenomena putus sekolah di wilayah ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi struktural yang kompleks, meliputi kemiskinan, isolasi geografis, dan rendahnya relevansi pendidikan formal bagi kehidupan lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Hasil penelitian menjawab dua rumusan masalah. Pertama, persepsi orang tua bersifat ambivalen: secara normatif mereka mengakui pentingnya pendidikan formal, namun dalam praktik keseharian mereka cenderung memandang pendidikan sebagai beban yang tidak terjangkau dan kurang relevan dengan kehidupan nelayan kepulauan. Kedua, solusi yang ditawarkan mencakup empat strategi kontekstual, yaitu penguatan program Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang tepat sasaran, pengembangan model belajar berbasis komunitas, pelibatan tokoh lokal dalam kampanye pendidikan, serta advokasi pembangunan infrastruktur pendidikan di wilayah kepulauan. Penelitian ini berkontribusi dalam memberikan gambaran yang nyata tentang dinamika pendidikan di wilayah kepulauan terpencil sekaligus menawarkan rekomendasi kebijakan yang berakar pada konteks lokal.
Copyrights © 2026