Artikel ini menelusuri periodisasi sejarah pemikiran perempuan penghayat Kepercayaan di Indonesia sejak tahun 1955 hingga masa kini. Melalui telaah tokoh-tokoh seperti Parwati, S.K. Trimurti, dan Sri Pawenang, penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan penghayat telah memainkan peran aktif dalam merumuskan wacana kebatinan, moralitas, dan kebangsaan sejak era awal kemerdekaan. Dengan menjadikan dokumen Badan Kongres Kebatinan Indonesia (BKKI) dan majalah Mawas Diri sebagai korpus utama, kajian ini mengungkap kontribusi intelektual perempuan dalam mengartikulasikan kebatinan sebagai kekuatan spiritual bangsa serta sarana pembentukan kepribadian nasional. Pendekatan situated knowledge dari Donna Haraway digunakan untuk membaca pengalaman perempuan penghayat sebagai bentuk pengetahuan yang terletak secara sosial dan historis. Temuan artikel ini menegaskan bahwa genealogi pemikiran perempuan penghayat tidak terputus, melainkan berlanjut hingga era pasca-Soeharto melalui berdirinya organisasi perempuan penghayat Indonesia (Puanhayati) pada tahun 2017. Dengan demikian, sejarah perempuan penghayat memperlihatkan kesinambungan reflektif antara spiritualitas, kebangsaan, dan emansipasi yang melampaui batas-batas agama dan negara.
Copyrights © 2026