ABSTRACT The phenomenon of code-mixing in Indonesian films has grown alongside the increasing representation of bilingual communities and digital culture. However, previous studies have primarily focused on identifying the forms of code-mixing, while limited attention has been given to its role in constructing film characters. This study enriches sociolinguistic research by examining code-mixing as a strategy for character development. It aims to identify the types of code-mixing used by the character Marlina in the film Agak Laen, directed by Muhadkly Acho, and to explain their contribution to character construction. A descriptive qualitative method was employed using Marlina’s utterances as the primary data source, collected through observation, dialogue transcription, and note-taking. Data were analyzed based on Suandi’s classification of inner and outer code-mixing. The findings reveal 11 instances of code-mixing, consisting of three cases of inner code-mixing and eight cases of outer code-mixing. The predominance of outer code-mixing portrays Marlina as a young character who adapts to digital culture while maintaining her local identity. These findings demonstrate that code-mixing functions as an effective narrative device for character construction in contemporary Indonesian cinema. ABSTRAK Fenomena campur kode dalam film Indonesia semakin berkembang seiring meningkatnya representasi masyarakat bilingual dan budaya digital. Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya masih berfokus pada identifikasi bentuk campur kode secara umum, sementara kajian yang menghubungkan penggunaan campur kode dengan konstruksi karakter tokoh masih terbatas. Penelitian ini penting untuk memperkaya kajian sosiolinguistik film sekaligus menjelaskan fungsi campur kode sebagai strategi pembentukan karakter. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis campur kode yang digunakan tokoh Marlina dalam film Agak Laen karya Muhadkly Acho serta menjelaskan perannya dalam membangun karakter tokoh. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa tuturan tokoh Marlina yang diperoleh melalui teknik simak, transkripsi, dan pencatatan dialog. Analisis data mengacu pada klasifikasi campur kode Suandi yang meliputi campur kode ke dalam dan campur kode ke luar. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 11 data campur kode, terdiri atas 3 campur kode ke dalam dan 8 campur kode ke luar. Dominasi campur kode ke luar memperlihatkan karakter Marlina sebagai representasi generasi muda yang adaptif terhadap budaya digital tanpa meninggalkan identitas lokal. Temuan ini menegaskan bahwa campur kode berfungsi sebagai perangkat naratif dalam pembentukan karakter film.
Copyrights © 2026