Miskonsepsi dan rendahnya kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) merupakan permasalahan penting dalam pembelajaran IPA yang memerlukan identifikasi melalui instrumen diagnostik yang akurat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi miskonsepsi peserta didik pada materi Gerak dan Gaya menggunakan Three-Tier Diagnostic Test berbasis Keterampilan Proses Sains (KPS) serta menganalisis kemampuan HOTS peserta didik berdasarkan instrumen tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan mixed method dengan desain sequential explanatory. Subjek penelitian terdiri atas 31 peserta didik kelas VII SMP Raudlatul Musthofa Tulungagung, dengan empat peserta didik dipilih secara purposif sebagai subjek wawancara. Instrumen penelitian berupa 25 soal Three-Tier Diagnostic Test yang mencakup level C4, C5, dan C6. Data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif persentase, sedangkan data kualitatif dianalisis secara tematik mengikuti model Miles, Huberman, dan Saldaña, kemudian diintegrasikan melalui triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase miskonsepsi melebihi 50% pada sebagian besar soal dan didominasi kategori False Negative (M2), yaitu peserta didik mampu memilih jawaban benar tetapi belum dapat memberikan alasan ilmiah yang tepat. Miskonsepsi utama ditemukan pada konsep gerak relatif dan titik acuan, interpretasi grafik jarak-waktu, perbedaan gerak dan perpindahan, penerapan Hukum II Newton, serta gaya pada benda diam. Kemampuan HOTS peserta didik juga tergolong rendah dengan persentase tahu konsep sebesar 35,7% pada level C4, 40,3% pada C5, dan 40,3% pada C6. Penelitian ini menyimpulkan bahwa miskonsepsi dan rendahnya HOTS saling berkaitan sehingga perlu diatasi melalui pembelajaran yang mengintegrasikan rekonstruksi konsep, penguatan KPS, dan pengembangan HOTS. Kombinasi Three-Tier Diagnostic Test dan wawancara dapat menjadi alternatif asesmen diagnostik yang komprehensif untuk mengungkap miskonsepsi peserta didik.
Copyrights © 2026