Perkembangan teknologi kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) membawa tantangan baru berupa maraknya disinformasi visual yang memicu fenomena digital naivety (kenaifan digital) pada anak-anak, tidak terkecuali di wilayah pedesaan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kecakapan literasi digital siswa, khususnya dalam mengidentifikasi dan membedakan antara konten visual asli dengan konten hasil rekayasa AI. Mitra sasaran program ini adalah 28 siswa kelas V A MI Islamiyah Tanjung, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali. Metode pelaksanaan yang digunakan adalah sosialisasi edukatif yang dikombinasikan dengan pendekatan partisipatif (participatory approach) dan experiential learning melalui empat kali pertemuan. Rangkaian aktivitas meliputi pemaparan materi interaktif, diskusi reflektif, serta pemanfaatan gamification melalui permainan kompetisi individu "Asli atau AI?". Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya perubahan paradigma berpikir siswa yang signifikan. Siswa yang semula bersikap pasif-konsumtif dan spekulatif kini bertransformasi menjadi agen digital yang kritis dan mampu mengartikulasikan alasan logis berbasis detail fisik visual untuk menguji keabsahan informasi. Faktor pendukung utama program ini adalah besarnya rasa ingin tahu siswa dan dukungan penuh pihak madrasah, sedangkan faktor penghambatnya adalah kesenjangan pengalaman digital domestik (digital divide) yang dialami beberapa siswa. Program ini berhasil memicu budaya literasi baru berupa edukasi sebaya (peer-education) di lingkungan sekolah.
Copyrights © 2026