Dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan besar berupa degradasi moral dan krisis karakter di kalangan peserta didik yang dipicu oleh masifnya kemajuan teknologi tanpa penguatan fondasi etika yang memadai. Pendidikan Agama Islam (PAI) sering kali terjebak dalam pendekatan kognitif-tekstual yang monoton, sehingga tercipta kesenjangan antara pemahaman keagamaan dan perilaku nyata di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi dan efektivitas model pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Qur’ani melalui metode Experiential Learning sebagai upaya transformasi karakter siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis di sebuah institusi pendidikan di Kota Palopo. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi yang kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model ini mengintegrasikan nilai-nilai utama Al-Qur'an seperti Shiddiq, Amanah, Fathonah, Tabligh, Ta’awun, serta Sabar dan Syukur ke dalam empat siklus pembelajaran berbasis pengalaman. Proses internalisasi nilai dimulai dari Concrete Experience sebagai stimulan akhlak, diikuti Reflective Observation melalui mekanisme muhasabah, Abstract Conceptualization sebagai kristalisasi ibrah berbasis wahyu, dan diakhiri dengan Active Experimentation dalam bentuk amal shalih yang nyata. Temuan penelitian mengindikasikan praktis singkat bagi guru PAI bahwa keterlibatan emosional dan praktik langsung meningkatkan retensi perubahan perilaku secara signifikan dibandingkan metode konvensional. Model ini berhasil menciptakan "jembatan emosional" yang mengubah nilai-nilai teologis menjadi karakter yang istiqomah, menjadikan PAI lebih humanis, aplikatif, dan relevan dalam menjawab tantangan zaman.
Copyrights © 2026