Pengarusutamaan digitalisasi sekolah dalam ekosistem Kurikulum Merdeka menuntut kesiapan infrastruktur teknologi yang merata, namun realitas di lapangan justru memperlihatkan kesenjangan operasional yang memicu terjadinya digitalisasi semu. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara mendalam problematika kesetaraan akses digital, defisit gawai bagi murid, serta siasat pedagogis yang ditempuh guru dalam menanggulangi keterbatasan tersebut. Dengan pendekatan kualitatif dan strategi studi multikasus, data dihimpun dari beberapa Sekolah Dasar di Kabupaten Lombok Tengah melalui kuesioner terbuka dan wawancara terstruktur terhadap sembilan informan kunci yang mewakili unsur pimpinan sekolah, guru, orang tua/wali murid, dan masyarakat sekitar. Temuan penelitian mengungkap tiga persoalan utama. Pertama, terjadi defisit perangkat digital di mana kuantitas komputer/laptop untuk murid masih sangat minim meskipun fasilitas fisik dasar pasca-rehabilitasi dinilai memadai. Kedua, hambatan teknis fungsional berupa kestabilan pasokan listrik dan gangguan jaringan nirkabel yang kerap melumpuhkan pemanfaatan media digital seperti Smart TV. Ketiga, muncul kesenjangan spasial-ekonomi di mana siswa di area pelosok dan perbatasan desa mengalami keterbatasan mobilitas fisik dan ketertinggalan dalam pengerjaan tugas mandiri akibat ketiadaan gawai pribadi. Di tengah keterbatasan tersebut, para guru memperluas siasat pedagogis melalui pembelajaran luar kelas, pemanfaatan media berbasis bahan bekas, serta penggunaan kuota internet pribadi demi menjaga kelangsungan pembelajaran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa digitalisasi sekolah masih bersifat semu dan memerlukan intervensi struktural yang tidak hanya berorientasi pada pengadaan perangkat, tetapi juga pada perbaikan infrastruktur pendukung dan pemberdayaan guru sebagai agen perubahan.
Copyrights © 2026