Penelitian ini menganalisis dan mengidentifikasi hubungan antara sistem kosmologi masyarakat Suku Sasak di Desa Adat Beleq Gumantar, Lombok Utara dengan organisasi spasial pada permukiman dan arsitektur tradisional. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode interpretatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi terstruktur dengan masyarakat dan tokoh adat, dokumentasi, serta pemetaan spasial. Data dianalisis dengan model interaktif, meliputi: reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil menunjukkan bahwa organisasi spasial permukiman dan bangunan tradisional dibentuk berdasarkan sistem kosmologi masyarakat Sasak melalui hierarki ruang, orientasi pada Gunung Rinjani, zonasi sakral–profan, tata letak, serta besaran dan struktur spasial. Bale Mengina, Sambi, dan Berugak Sekenem merupakan nilai kosmologi dalam pembagian ruang vertikal dan horizontal, orientasi bangunan, serta penggunaan struktur dan material. Kosmologi spasial bukan sekadar landasan filosofis arsitektur, tetapi juga mekanisme pelestarian budaya, konservasi lingkungan, serta penguatan identitas masyarakat adat. Penelitian ini memperkaya kajian arsitektur vernakular lewat pendekatan integratif aspek sosial-budaya, sekaligus menjadi dasar pelestarian dan perencanaan ruang adat.
Copyrights © 2026