Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

DINAMIKA FUNGSI DAN ORGANISASI RUANG PADA HUNIAN DI KAWASAN SITUS LIYANGAN TEMANGGUNG Rizki Swandani; Antariksa; Lisa Dwi Wulandari
Pawon: Jurnal Arsitektur Vol 3 No 01 (2019): PAWON : Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.477 KB) | DOI: 10.36040/pawon.v3i01.135

Abstract

Ditemukannya situs kuno Liyangan di kawasan permukiman di Dusun Liyangan, Kabupaten Temaggung berkembang menjadi kawasan pariwisata, kawasan konservasi penelitian dan perdagangan secara tidak langsung menyebabkan (setidaknya) dinamika ruang pada hunian di sekitar situs tersebut. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya, karena berusaha mendeskripsikan dinamika ruang pada hunian (ranah arsitektural) di kawasan situs purbakala (ranah arkeologi). Metode pengumpulan datanya yaitu: observasi lapangan, wawancara mendalam, dokumentasi, sketsa dan pengukuran arsitektural. Rancangan penelitian berjenis kualitatif, sedangkan strategi penelitian berjenis deskriptif. Menggunakan dua metode analisis yaitu: analisis deskriptif dan analisis komparatif. Temuan pada penelitian ini adalah deskripsi dari dinamika fungsi ruang dan organisasi ruang pada hunian di kawasan situs Liyangan.
OBJEK AMATAN PADA TIPO-MORFOLOGI RUANG PONDOK PESANTREN SALAF-TRADISIONAL Ririn Dwi Lestari; Antariksa; Jenny Ernawati
Pawon: Jurnal Arsitektur Vol 2 No 02 (2018): PAWON : Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1736.237 KB) | DOI: 10.36040/pawon.v2i02.250

Abstract

Pondok Pesantren Salaf-Tradisional merupakan model sistem sosial sekaligus sistem intelektual yang pertama dan tertua di Indonesia. Sebutan di Jawa, Sunda dan Madura adalah Pesantren atau Pondok, di Minangkabau Surau (Dayah), di Aceh dinamakan Rangkang (Meunasah). Lembaga ini bertujuan untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral agama sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari. Melalui pengkajian kitab klasik atau kitab kuning, dengan metode sorogan, bandongan atau wetonan, dan hafalan serta halaqoh. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui objek amatan apa saja yang dapat menjadi panduan untuk mengamati tipo-morfologi tipe ‘ibu’ atau tipe dasar/tradisional penyelenggaraan ruang-ruangnya. Melalui elaborasi teori ruang dan sintesa objek amatan dari penelitian terdahulu yang terkait, diperoleh objek amatan pada Ruang Luar berupa, (1)Organisasi Massa, (2)Lay-Out dan (3)Tatanan Massa dengan variabel amatan (a)Bentuk Massa, (b)Konfigurasi Massa, (c)Orientasi Massa, (d)Pola Sirkulasi, (e)Hirarki Massa dan (f)Transformasi Massa. Objek Amatan pada Ruang Dalam yaitu, (1)Organisasi Ruang, (2)Denah Ruang, (3)Teritori Ruang dan (4)Tatanan Ruang dengan variabel amatan (a)Bentuk Ruang, (b)Konfigurasi Ruang, (c)Orientasi Ruang, (d)Sirkulasi Ruang, (e)Elemen Pembatas Ruang, (f)Teritori Pemanfaatan Ruang, (g)Hirarki Ruang dan (h)Transformasi Ruang. Tanpa mengetahui tipe dasarnya, tidak mungkin bisa mengenal peran pentignnya dalam sejarah perjuangan bangsa hingga sekarang, apalagi mampu melestarikan nilai-nilai tradisi/kultur luhur yang dimilikinya.
Kosmologi Spasial Arsitektur Tradisional Suku Sasak Desa Adat Beleq Gumantar Lombok Utara Muhammad Agung Bahroni; Antariksa; Yusfan Adeputera Yusran
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.8943

Abstract

Penelitian ini menganalisis dan mengidentifikasi hubungan antara sistem kosmologi masyarakat Suku Sasak di Desa Adat Beleq Gumantar, Lombok Utara dengan organisasi spasial pada permukiman dan arsitektur tradisional. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode interpretatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi terstruktur dengan masyarakat dan tokoh adat, dokumentasi, serta pemetaan spasial. Data dianalisis dengan model interaktif, meliputi: reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil menunjukkan bahwa organisasi spasial permukiman dan bangunan tradisional dibentuk berdasarkan sistem kosmologi masyarakat Sasak melalui hierarki ruang, orientasi pada Gunung Rinjani, zonasi sakral–profan, tata letak, serta besaran dan struktur spasial. Bale Mengina, Sambi, dan Berugak Sekenem merupakan nilai kosmologi dalam pembagian ruang vertikal dan horizontal, orientasi bangunan, serta penggunaan struktur dan material. Kosmologi spasial bukan sekadar landasan filosofis arsitektur, tetapi juga mekanisme pelestarian budaya, konservasi lingkungan, serta penguatan identitas masyarakat adat. Penelitian ini memperkaya kajian arsitektur vernakular lewat pendekatan integratif aspek sosial-budaya, sekaligus menjadi dasar pelestarian dan perencanaan ruang adat.
Vertical and horizontal room cosmology in traditional house (sa’o) Adat Saga Village, Ende Regency, Flores Zulkifli H. Achmad; Antariksa; Agung Murti Nugroho
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 1 No 2 (2017): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Januari 2017 ~ Juni 2017
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v1i2.36

Abstract

Cosmology is the science related to kemestaan (cosmos) in a concept of the relationship between the human world (micro-cosmos) and of the universe. Space in traditional house Saga has values and khasan interesting architecturally is examined. The influence of Ngga'e on the Du'a belief and traditional home space Saga interesting architecturally is identified. This study uses qualitative methods with an ethnographic approach that is description. The findings of this study is about the cosmology of the space on a traditional home. Cosmological view of space in traditional house Saga is distinguished into three parts namely is lewu, gara as one and mention the position of the human body parts. Cosmological view of space in traditional Indigenous Villages (Sa'o) Saga depicted horizontally with the mother lay. Nature of traditional house Saga is the core of fertility and birth. Being a mother is clearly visible on a carved door (pene ria) enter Sa'o believe carving the breasts of a woman who symbolizes the human life and a transverse under IE peneria koba leke symbolizing the human development. The position of the head of the mother at the lulu (the dugout), second legs on his back is to the fore in the tent (dugout or accepting guests), second hand mereba is at the right and left dhembi space, the womb or humanitarian space are at puse ndawa.
Spatial development of Bajo tribal residence in Wuring Village Maumere City Ambrosius A. K. S. Gobang; Antariksa; Agung Murti Nugroho
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 2 No 1 (2017): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Juli 2017 ~ Desember 2017
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v2i1.37

Abstract

The spatial condition of the Bajo Tribe at Wuring village in Maumere Town is seen in the characteristics to residential community as early village of Muslim civilization and became the center of spreading out Islam in Sikka Regency. The historical background is as a review in exploring the formation’s community dwelling and geographical, social, cultural and economic aspects of the local community. This approach in research using phenomenology method with qualitative descriptive and naturalistic analysis that is describing and interpreting cultural record of Bajo Tribe in the form of description of history, map document, or artefact which in the form of physical resident of Bajo tribe society. The purpose of this study is to examine the spatial development that is formed in the form of spatial system to residential and the aspects underlying the spatial establishment of Bajo Tribe in Wuring village area as an effort to understand the initial condition until the formation of the present kampung hamlet. The result of this research gives general ilustration about occupancy spatial system including space organization, space orientation and space of hierarchy in micro scope of residence in the form of ma'bunda-ma'buli concept. On the other hand, it is also on environmental messo like form of spatial development shelter in the form of grow stage and diaruma stage because of the non-physical aspect underlined spatial formulation of dwellings to the area of ??Wuring village.