Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pergeseran paradigma hubungan masyarakat Kota Medan dengan Sungai Deli dan Sungai Babura, dari pusat peradaban dan perdagangan menjadi sumber ancaman bencana banjir. Selama ini, mitigasi banjir cenderung bersifat teknokratis-struktural (betonisasi) yang sering kali mengabaikan dimensi kebudayaan dan kearifan lokal, sehingga mengalami jalan buntu saat berbenturan dengan praktik hidup masyarakat bantaran sungai. Tujuan utama penelitian ini adalah menggali kembali kearifan lokal, strategi adaptasi berbasis budaya (local genius), dan konstruksi sosial masyarakat terhadap sungai guna merumuskan rekomendasi kebijakan mitigasi bencana yang lebih humanis, inklusif, dan berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif etnografi untuk memahami pandangan dunia (world view) masyarakat melalui deskripsi mendalam (thick description). Tahapan penelitian meliputi pengumpulan data primer melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan tokoh masyarakat serta agen pemerintah, menggunakan perspektif emik untuk menginterpretasikan jaringan makna budaya di balik perilaku masyarakat di zona banjir. Luaran yang ditargetkan mencakup laporan penelitian dan publikasi ilmiah (jurnal/artikel) yang memberikan rekomendasi kebijakan mitigasi berbasis budaya. Uraian TKT (Tingkat Kesiapan Teknologi) yang diusulkan berada pada level Penelitian Dasar, yang berfokus pada pembuktian konsep dan prinsip dasar dari hubungan sosio- antropologis manusia dengan sungai sebagai ekosistem budaya.
Copyrights © 2026