Penelitian ini menganalisis interferensi bahasa Batak Toba dalam penggunaan bahasa Indonesia oleh pemandu wisata di Waterfront Pangururan, Danau Toba, Samosir. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kondisi bilingual pemandu wisata lokal yang dituntut berkomunikasi secara jelas dalam bahasa Indonesia, tetapi hidup dalam lingkungan berbahasa Batak Toba yang kuat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data berupa tuturan pemandu wisata ketika berinteraksi dengan wisatawan, yang dikumpulkan melalui teknik simak bebas libat cakap, rekam, dan catat. Data dianalisis melalui reduksi, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan simpulan berdasarkan teori interferensi Weinreich. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interferensi muncul terutama pada tataran fonologi dan morfologi. Interferensi fonologis tampak melalui perubahan dan penambahan fonem, sedangkan interferensi morfologis muncul melalui penggunaan afiks dan konstruksi arah yang dipengaruhi bahasa Batak Toba. Faktor penyebabnya meliputi latar bilingual, kebiasaan berbahasa, dominasi lingkungan lokal, tuturan spontan, dan perbedaan sistem bahasa. Penelitian ini berkontribusi pada kajian sosiolinguistik pariwisata dan pembinaan bahasa Indonesia bagi pemandu wisata lokal.
Copyrights © 2026