Pembangunan infrastruktur jalan di Indonesia dihadapkan pada dua tantangan yang saling berkaitan, yaitu terbatasnya ketersediaan agregat alam serta meningkatnya volume limbah bongkaran beton (Recycled Concrete Aggregate/RCA) dan limbah fly ash dari industri pembangkit listrik. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh variasi rasio aktivator (NaOH:Na₂SiO₃ = 1:1; 1:2; 2:3; 3:7) dan rasio aktivator terhadap prekursor (AC/FA = 0,4; 0,6; 0,8; 1,0) pada campuran RCA dengan fly ash tipe C sebesar 40% yang distabilisasi melalui proses geopolimerisasi, untuk digunakan sebagai material lapis pondasi jalan. Pengujian laboratorium meliputi workability, setting time, densitas, kuat tekan bebas (UCS), kuat lentur, kuat tarik belah, serta ketahanan abrasi Los Angeles, dilanjutkan dengan analisis numerik metode elemen hingga pada tiga skenario struktur perkerasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan rasio AC/FA memperpanjang setting time dan menurunkan densitas akibat bertambahnya cairan bebas dalam campuran. Komposisi optimum diperoleh pada rasio NaOH:Na₂SiO₃ = 1:2 dan AC/FA = 0,6 (kode RF40.1/2.0,6) dengan kuat tekan 6,534 MPa, kuat lentur 1,607 MPa, kuat tarik belah 0,53 MPa, dan modulus elastisitas 778.349,88 kN/m² pada umur curing 3 hari, seluruhnya memenuhi persyaratan Cement Treated Base. Analisis elemen hingga menunjukkan bahwa substitusi lapis pondasi dengan material geopolimer RCA–fly ash mampu menurunkan defleksi vertikal hingga 24,78% dan meningkatkan kapasitas dukung struktur sebesar 42,9% dibandingkan struktur acuan Manual Desain Perkerasan Jalan 2024, serta memungkinkan reduksi ketebalan lapis pondasi hingga 58% tanpa penurunan kinerja struktural yang berarti. Kata kunci: geopolimerisasi, Recycled Concrete Aggregate, fly ash, lapis pondasi jalan, metode elemen hingga
Copyrights © 2026