Praktik menghafal rumus tanpa pemahaman konseptual yang memadai masih mendominasi pembelajaran matematika di Indonesia. Situasi ini tercermin dalam skor PISA 2022 siswa Indonesia, yang hanya mencapai 366—turun 13 poin dari periode sebelumnya dan jauh di bawah rata-rata global. Artikel ini bertujuan untuk: (1) menganalisis secara kritis dominasi pendekatan pembelajaran hafalan dalam pendidikan matematika Indonesia, (2) mengeksplorasi konstruksi pengetahuan sebagai alternatif yang lebih berorientasi pada pemahaman mendalam, dan (3) menelaah bukti empiris yang mendukung keefektifan pendekatan konstruktivis. Tinjauan pustaka sistematis dilakukan terhadap 26 sumber, termasuk jurnal yang terindeks SINTA, publikasi internasional terkemuka, dan buku referensi relevan yang diterbitkan antara tahun 1997 dan 2025. Temuan penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa menghafal secara mekanis hanya menghasilkan pengetahuan yang dangkal dan mudah dilupakan, serta sulit diterapkan pada situasi baru. Sebaliknya, pendekatan konstruktivis yang didasarkan pada teori Piaget dan Vygotsky telah terbukti mampu menumbuhkan pemahaman konseptual yang lebih kokoh dan bertahan lama. Model pembelajaran konstruktivis seperti Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pembelajaran Penemuan secara konsisten menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam penguasaan konsep dan keterampilan pemecahan masalah matematika. Studi ini menyimpulkan bahwa peralihan dari menghafal secara mekanis menuju konstruksi pengetahuan yang bermakna memerlukan perubahan mendasar dalam peran guru dari sekadar penyampai informasi menjadi fasilitator aktif, disertai dengan penguatan keterampilan proses siswa sebagai landasan pembelajaran matematika yang berkelanjutan.
Copyrights © 2026