Penelitian ini mengkaji strategi integrasi sosial antara masyarakat Hindu dan Katholik di Desa Ekasari, Jembrana, Bali, yang berhasil menciptakan harmoni meskipun memiliki latar belakang konflik historis. Dengan pendekatan kualitatif studi kasus, penelitian ini menggali faktor pendukung dan penghambat integrasi melalui observasi, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi dibangun melalui toleransi, kerjasama dalam kegiatan sosial (seperti gotong royong), dan akomodasi budaya, seperti adopsi simbol Hindu dalam ritual Katholik. Faktor pendorong meliputi kesamaan identitas budaya Bali, nilai-nilai kearifan lokal (Tri Hita Karana), serta peran tokoh agama dan adat sebagai mediator. Namun, tantangan muncul dari isu perkawinan beda agama dan persaingan politik yang berpotensi memicu ketegangan. Teori AGIL Parsons dan modal sosial Fukuyama digunakan untuk menganalisis mekanisme adaptasi, kolaborasi, dan penguatan jaringan sosial lintas agama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan integrasi di Ekasari didukung oleh komunikasi efektif, fleksibilitas budaya, dan kelembagaan adat yang inklusif. Temuan ini memberikan model relevan bagi pengelolaan keragaman agama di Indonesia, dengan implikasi bagi penguatan pendidikan multikultural dan kebijakan berbasis kearifan lokal.
Copyrights © 2025