Fenomena meningkatnya aktivitas pariwisata di Bali, khususnya di kawasan Pantai Kuta, tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memunculkan persoalan lingkungan dan kesehatan yang berdampak pada masyarakat lokal. Tingginya produksi limbah, pencemaran pesisir, serta ketimpangan akses layanan kesehatan menunjukkan adanya ketidakadilan lingkungan antara masyarakat lokal, wisatawan, dan pelaku industri pariwisata. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi risiko kesehatan lingkungan serta faktor struktural yang memengaruhi ketimpangan tersebut melalui perspektif sosiologi farmasi. Penelitian menggunakan pendekatan mixed-method dengan dominasi kualitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui kuesioner terhadap 45 responden yang terdiri atas masyarakat lokal, wisatawan, dan stakeholder pariwisata, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi lapangan. Analisis data dilakukan secara deskriptif-komparatif untuk mengidentifikasi perbedaan tingkat risiko kesehatan dan akses layanan kesehatan antar kelompok sosial, kemudian diperdalam melalui analisis tematik untuk menjelaskan relasi kekuasaan, distribusi modal, dan kerentanan sosial dalam pengelolaan kesehatan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat lokal mengalami paparan risiko kesehatan lebih tinggi dibandingkan wisatawan dan stakeholder, sementara kapasitas akses layanan kesehatan mereka relatif lebih rendah. Temuan ini menegaskan bahwa modernitas pariwisata turut mereproduksi ketimpangan keadilan lingkungan di kawasan wisata Bali.
Copyrights © 2026