Latar Belakang: Insiden demensia Alzheimer di seluruh dunia meningkat dengan cepat. Estimasi orang dengan demensia di Indonesia pada tahun 2019 sebesar 987,673 (Kemenkes RI, 2019; Nichols E, 2019). Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sendiri ditemukan bahwa angka prevalensi lebih tinggi dari angka global, angka di Jogja sebesar 20,1 persen. Penyakit Demensia atau kepikunan diperkirakan akan makin meningkat kemunculannya di zaman modern. Langkah preventif seperti deteksi dini dan penangan dengan tepat akan dapat meminimalkan angka kejadian demensia meningkat. Tujuan: untuk menggambarkan dan mengidentifikasi tanda dan gejala kepikunan pada pra lansia di Kota Yogyakarta. Metode Proposal: penelitian deskriptif kuantitatif inimenggunakan tehnik purposive sampling dengan 105 responden usia 45-59 (pralansia). Kuesioner deteksi dini kepikunan digunakan dalam penelitian ini. Hasil: analisis deskriptif menunjukkan sebagian besar responden perempuan (72,4%), pendidikan paling banyak adalah tamat pendidikan tinggi (diploma dan sarjana) sebanyak 45,7%, pekerjaan paling besar adalah karyawan swasta (34,3%). distribusi kepikunan pada pralansia di Yogyakarta tahun 2023 yang terbesar adalah tidak pikun 82,9%. Sedangkan sisanya berisiko pikun (17,1%). Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 82,9% responden tidak pikun. Namun demikian terdapat pralansia yang memiliki risiko pikun yaitu sebesar 17,1% responden. Saran: melakukan penelitian dengan melibatkan variable lain yang menjadi factor risiko terjadinya demensia pada pra lansia.
Copyrights © 2026