Pembentukan karakter masih menjadi agenda mendesak bagi pendidikan Islam di Indonesia, terutama ketika berbagai persoalan moral semakin mewarnai kehidupan publik. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif berbasis kajian pustaka (library research) untuk menelaah ulang QS Al-Ahzab ayat 72 melalui pendekatan tafsir tarbawi, dengan menelusuri bagaimana Al-Thabari, Ibn Katsir, Sayyid Qutb, Hamka, dan M. Quraish Shihab memaknai tawaran amanah dari Allah yang ditolak oleh langit, bumi, dan gunung gunung, namun justru diterima oleh manusia dengan predikat zaluman jahula. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa amanah dalam ayat tersebut memuat tiga dimensi yang saling berkaitan, yaitu tanggung jawab kepada Allah, akuntabilitas kepada sesama, dan integritas terhadap diri sendiri. Ketiga dimensi ini selanjutnya dihubungkan dengan praktik pedagogis yang konkret, meliputi integrasi nilai dalam kurikulum, keteladanan guru, dan pembentukan budaya kelembagaan madrasah. Penelitian ini menegaskan bahwa mahasiswa calon guru Madrasah Ibtidaiyah memegang posisi strategis dalam menumbuhkan amanah pada peserta didik, mengingat pengaruh mereka yang besar pada masa pembentukan karakter usia dini, sehingga pendidikan amanah tidak dapat berdiri sebagai materi tambahan, melainkan harus menjiwai seluruh proses pembelajaran di madrasah.
Copyrights © 2026