Penelitian ini mengkaji cara media online membingkai laporan tentang permintaan maaf Trans7 kepada Pondok Pesantren Lirboyo terkait tayangan Xpose Uncensored yang dianggap menyakiti perasaan kalangan pesantren. Fokus utama dalam penelitian ini adalah bagaimana CNN Indonesia dan Kompas.com menggunakan empat elemen framing Robert Entman (definisi masalah, penyebab, penilaian moral,dan saran solusi), serta bagiaman variasi pembingkaian tersebut mempengaruhi pandangan publik terhadap Trans7, Chairul Tanjung, dan pesantren sebagai lembaga keagamaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis serta membandingkan cara pemberitaan kedua media tersebut untuk mengungkap penekanan makna yang terbentuk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan analisis framing berdasarkan model Robert Entman serta desain deksriptif- komparatif. Data diambil dari dua berita yang dipublikasikan oleh CNN Indonesia dan Kompas.com pada bulan Oktober 2025. Hasil dari penelitian mengungkap bahwa CNN Indonesia membingkai masalah ini dengan menekankan tanggung jawab lembaga, profesionalisme media dan solusi sistematis. Di sisi lain, Kompas.com lebih fokus pada aspek personal, moral, dan spiritual melalui sosok Chairul Tanjung serta pentingnya hubungan silaturahmi dan rekonsiliasi sosial. Keduanya juga menggambarkan pesantren Lirboyo dengan cara positif sebagai pihak yang bijaksana. Pembingkaian tersebut berperan dalam membentuk pandangan masyarakat yang cenderung meredakan perselisihan dan meningkatkan citra baik media serta pesantren. Dari sudut pandang teori, penelitian ini menambah wawasan dalam kajian framing media mengenai isu keagamaan dan menegaskan pentingnya model Entman dalam konteks media digital di Indonesia. Dari sisi praktik, temuan penelitian ini mendorong media untuk lebih berhati-hati dalam melaporkan isu-isu sensitif serta memperkuat literasi kritis di kalangan masyarakat.
Copyrights © 2026