Penelitian ini menganalisis Tradisionalisme, Neo-Tradisionalisme, dan Radikalisme dalam Islam kontemporer melalui kerangka politik bahasa Islam Bernard Lewis, yang memandang bahasa bukan sekadar medium komunikasi, melainkan arena perebutan makna, legitimasi, otoritas keagamaan, serta pembentukan identitas dan etos sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui telaah literatur analitis terhadap karya-karya representatif ketiga arus pemikiran, dengan pembacaan kritis yang diperdalam melalui elemen Analisis Wacana Kritis Fairclough pada level teks dan fungsi sosial-ideologisnya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Tradisionalisme meneguhkan otoritas keagamaan transenden melalui kesinambungan sanad dan bahasa turāth, yang membentuk identitas keislaman berbasis kontinuitas tradisi serta etos adab keilmuan. Neo-Tradisionalisme menegosiasikan otoritas penafsiran dengan merevitalisasi terminologi klasik dalam ruang global-digital, sehingga melahirkan identitas keislaman hibrid dan etos revitalisasi berbasis jejaring. Sementara itu, Radikalisme mengklaim otoritas kebenaran tunggal melalui bahasa pemurnian sebagai instrumen eksklusi dan konfrontasi ideologis, yang menghasilkan etos puritan dan konfrontatif. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemanfaatan politik bahasa sebagai ruang analitis bersama untuk membaca kontestasi otoritas, identitas, dan etos Islam kontemporer, serta membuka peluang kajian lanjutan melalui analisis media digital dan perbandingan lintas budaya.This study analyzes Traditionalism, Neo-Traditionalism, and Radicalism in contemporary Islam through Bernard Lewis’s framework of Islamic language politics, which understands language not merely as a medium of communication but as an arena of struggle over meaning, legitimacy, religious authority, and the formation of identity and social ethos. Employing a qualitative approach based on an analytical literature review of representative works from the three intellectual currents, the study is informed by critical reading using elements of Fairclough’s Critical Discourse Analysis at the levels of textual construction and socio-ideological function. The findings show that Traditionalism reinforces transcendent religious authority through the continuity of sanad and the language of turāth, shaping an Islamic identity grounded in the continuity of tradition and an ethos of scholarly adab. Neo-Traditionalism negotiates interpretive authority by revitalizing classical terminology within global-digital spaces, producing a hybrid Islamic identity and a network-based ethos of revitalization. Radicalism, by contrast, claims exclusive truth authority through the language of purification as an instrument of exclusion and ideological confrontation, resulting in a puritan and confrontational ethos. The originality of this study lies in its use of language politics as a shared analytical space to examine the contestation of authority, identity, and ethos in contemporary Islam, while opening avenues for future research through digital media analysis and cross-cultural comparison.
Copyrights © 2025