Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi kekerasan aparat dalam media sosial pada kasus penembakan yang melibatkan oknum TNI di Palembang menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Teun A. Van Dijk. Media sosial dipahami sebagai ruang publik digital yang tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga menjadi arena produksi wacana yang sarat ideologi, kekuasaan, dan emosi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan data berupa video viral, caption, komentar, tagar, dan berita daring pendukung yang dikumpulkan secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wacana kekerasan aparat dikonstruksi melalui makrostruktur, superstruktur, dan mikrostruktur yang diperkuat oleh kognisi sosial serta konteks sosial. Makrostruktur memperlihatkan tema dominan berupa kekerasan, keadilan, disiplin institusi, dan pembelaan terhadap TNI. Superstruktur menunjukkan pola narasi yang diawali kronologi, reaksi publik, klarifikasi, hingga tuntutan keadilan. Mikrostruktur memperlihatkan penggunaan bahasa emosional yang memperkuat polarisasi opini. Temuan ini menegaskan bahwa media sosial berperan sebagai ruang pertarungan wacana yang membentuk representasi kekerasan aparat secara ideologis dan tidak netral. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat memperkuat literasi digital masyarakat dalam membaca narasi viral secara kritis sebelum membentuk opini publik.
Copyrights © 2026