Studi ini dilakukan untuk mengevaluasi kondisi keuangan 12 emiten sektor ritel yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2023–2024, dengan mempertimbangkan pergeseran perilaku belanja masyarakat pasca pandemi Covid-19 dari metode konvensional ke platform digital. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan mengandalkan data sekunder yang bersumber dari laporan keuangan tahunan perusahaan. Penilaian dilakukan menggunakan sejumlah rasio keuangan yang meliputi aspek profitabilitas (Net Profit Margin/NPM dan Return on Assets/ROA), likuiditas (Current Ratio/CR dan Quick Ratio/QR), solvabilitas (Debt to Equity Ratio/DER), serta aktivitas (Total Asset Turnover/TATO). Temuan studi memperlihatkan bahwa seluruh perusahaan mencatatkan nilai NPM (<20%) dan ROA (<30%) di bawah tolok ukur industri, yang mengindikasikan bahwa performa profitabilitas belum mencapai level yang optimal. Dari sisi likuiditas, hanya dua perusahaan yang berhasil memenuhi standar CR (≥2×) dan tiga perusahaan memenuhi standar QR (≥1,5×), sementara sembilan perusahaan lainnya terindikasi rentan terhadap gangguan likuiditas. Pada dimensi solvabilitas, tiga perusahaan menunjukkan komposisi modal yang sehat dengan DER (≤80%), sedangkan sembilan perusahaan lainnya tercatat memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap pendanaan eksternal berupa utang. Adapun dari aspek aktivitas (TATO), hanya tiga perusahaan yang dinilai efisien (≥2×), sementara perusahaan lainnya belum mampu mengoptimalkan penggunaan asetnya secara maksimal. Secara umum, sebagian besar perusahaan ritel yang diteliti belum memenuhi tolok ukur industri pada keempat dimensi tersebut. Hasil ini menekankan urgensi penerapan strategi adaptasi yang lebih inovatif dan agresif guna menghadapi persaingan dengan platform e-commerce, yang saat ini telah menjadi kanal belanja dominan di kalangan konsumen pascapandemi.
Copyrights © 2026