Penelitian ini bertujuan membedah penggunaan majas simbolik dalam mengkonstruksi makna kekuasaan pada novel Mahkota yang Terbelah 4 karya Wid Kusuma. Kajian ini difokuskan pada pendekatan stilistika kualitatif deskriptif untuk menginterpretasi satuan lingual yang mengandung simbol otoritas dan konflik politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengarang memanfaatkan simbol benda (mahkota dan takhta), warna (emas dan merah), serta alam (badai dan langit hitam) untuk merepresentasikan dualitas kekuasaan yang megah di permukaan namun rapuh di dalamnya. Simbol "mahkota yang terbelah" menjadi metafora sentral hancurnya legitimasi dan persatuan akibat korupsi moral pemegang kekuasaan. Selain itu, simbol hewan secara strategis mempertegas kritik terhadap sifat oportunis elit penguasa. Disimpulkan bahwa majas simbolik dalam novel ini tidak hanya berfungsi sebagai estetika bahasa, melainkan instrumen kritik sosiopolitik yang efektif untuk mengkonstruksi makna bahwa kekuasaan tanpa integritas moral akan runtuh oleh beban ambisinya sendiri.
Copyrights © 2026