Penelitian ini mengkaji proses pembentukan moderasi Islam melalui interaksi antara tradisi keagamaan dan budaya lokal pesantren dalam konteks keindonesiaan di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Gresik. Islam dipahami tidak hadir secara ahistoris, melainkan tumbuh melalui dialog berkelanjutan dengan realitas sosial dan budaya masyarakat. Pesantren berperan strategis sebagai ruang pendidikan sekaligus ruang sosial yang memungkinkan nilai-nilai keislaman dikontekstualisasikan secara moderat, inklusif, dan adaptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan, melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moderasi Islam tidak diajarkan secara doktrinal, melainkan diinternalisasikan melalui tradisi keilmuan kitab kuning, praktik ritual kolektif, budaya ikhtilaf, serta relasi sosial yang humanis antara kiai, santri, dan masyarakat sekitar. Budaya lokal pesantren berfungsi sebagai medium efektif dalam membentuk habitus keberagamaan yang toleran dan kontekstual. Keteladanan kiai menjadi faktor sentral dalam proses konstruksi nilai moderasi Islam yang berlangsung secara berkelanjutan. Temuan ini menegaskan bahwa pesantren memiliki peran penting sebagai agen penguatan Islam moderat yang selaras dengan nilai kebangsaan dan pluralitas masyarakat Indonesia.
Copyrights © 2026