Sistem patronase merupakan fenomena sosial yang kompleks di komunitas pesisir, khususnya dalam hubungan antara nelayan dan tengkulak di Desa Pulo Sarok, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil. Meskipun sering dianggap pengeksploitasian, sistem ini tetap bertahan sebagai strategi adaptasi sosial ekonomi bagi nelayan yang menghadapi ketidakpastian hidup dari hasil laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi pengetahuan nelayan lokal tentang sistem patronase dan menggali lebih dalam bagaimana pengetahuan tersebut membentuk praktik dan legitimasi sistem dalam kehidupan sehari-hari. Metode kualitatif diterapkan dengan melibatkan nelayan, keluarga nelayan, dan panglima laut sebagai informan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian mengungkapkan tiga poin utama pembentukan pengetahuan nelayan, pertama nilai-nilai sosial dan norma yang membentuk kepatuhan terhadap aturan tak tertulis, kedua tradisi lisan sebagai mekanisme transfer pengetahuan antar generasi, dan ketiga ketergantungan ekonomi yang berubah menjadi ikatan sosial emosional. Penelitian ini menunjukkan bahwa sistem patronase bertahan tidak hanya karena kebutuhan ekonomi, tetapi karena telah tergabung atau menyatu ke dalam nilai-nilai budaya dan identitas kelompok komunitas nelayan. Praktik patronase membentuk realitas sosial yang terus dianut melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi sebagaimana dijelaskan dalam teori konstruksi sosial Peter L. Berger. Penelitian ini perlu dilanjutkan dengan menerapkan metode campuran kualitatif dan kuantitatif untuk meningkatkan generalisasi dan eksplorasi yang lebih kompleks terkait sistem patronase yang dipraktikkan di berbagai wilayah pesisir
Copyrights © 2026