Sudden cardiac arrest is a medical emergency that requires immediate treatment. The general public plays an important role in providing initial treatment in the form of first aid. This activity aims to increase public knowledge of Basic Life Support (BLS) through training for members of the Disaster-Resilient Village (Destana) and the Youth Integrated Health Post (Posyandu Remaja) in Tanjungsari Village. The education was provided to 43 participants using lectures to deliver BLS theory and facilitator-led practical training, supported by BLS mannequins and audiovisual materials, including PowerPoint presentations and videos. The educational program began with a pre-test, followed by a material presentation and practical session, and concluded with a post-test. The results showed a significant increase in participants' knowledge (p < 0.001), with an average knowledge score of 46 ± 20.8 before the activity and 78 ± 16.4 after the activity. This indicates that the education provided had a positive impact on increasing community knowledge of managing cardiac arrest emergencies in disaster situations. This activity also served as an effort to strengthen the community's capacity to provide appropriate initial treatment before professional medical assistance became available. Thus, similar educational activities involving material presentations, video screenings, practical sessions, and simulations can be conducted for a wider community. Kejadian henti jantung mendadak merupakan kondisi kegawatdaruratan yang membutuhkan penanganan dengan cepat. Masyarakat awam memiliki peran penting dalam pemberian penanganan awal dalam pemberian pertolongan pertama. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD) melalui pelatihan kepada anggota Desa Tanggung Bencana (Destana) dan Posyandu Remaja di Desa Tanjungsari. Edukasi diberikan kepada 43 peserta menggunakan metode ceramah untuk teori BHD dan metode pelatihan yang dipimpin oleh fasilitator untuk praktik, serta menggunakan media manekin BHD serta audiovisual power point dan video. Edukasi dimulai dengan pre-test, sesi pemberian materi dan praktik, serta post-test. Hasil menunjukkan adanya peningkatan secara signifikan pada pengetahuan peserta (p<0,001), dengan nilai rata-rata pengetahuan sebelum kegiatan 46±20,8 dan sesudah kegiatan 78±16,4. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi yang dilakukan memberikan dampak positif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat menghadapi kondisi gawat darurat henti jantung pada keadaan bencana. Kegiatan ini juga merupakan upaya untuk memperkuat kapasitas komunitas agar mampu melakukan penanganan awal secara tepat sebelum bantuan medis profesional tersedia. Dengan demikian, kegiatan edukasi serupa melalui pemberian materi, pemutaran video, praktikum, dan simulasi dapat dilakukan kepada masyarakat lebih luas.
Copyrights © 2026