Pengelolaan ekowisata di kawasan konservasi menghadapi tantangan kompleks akibat ketegangan antara tujuan konservasi, kepentingan ekonomi, dan dinamika sosial masyarakat lokal. Kondisi tersebut menuntut model tata kelola yang adaptif, kolaboratif, dan kontekstual. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kebijakan pengelolaan ekowisata berbasis kearifan lokal masyarakat Tengger di Desa Ngadas serta mengkaji perannya dalam memperkuat keberlanjutan kawasan konservasi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan analisis dokumen kebijakan. Analisis data dilakukan secara tematik dan kelembagaan untuk memahami relasi aktor, struktur kebijakan, serta dinamika sosial-ekologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan ekowisata masih didominasi pendekatan hierarkis, sehingga partisipasi masyarakat bersifat prosedural dan kearifan lokal belum terinstitusionalisasi secara memadai dalam kebijakan formal. Kondisi ini berdampak pada lemahnya legitimasi kebijakan dan risiko ketidakseimbangan antara perlindungan ekologi dan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi kearifan lokal ke dalam kerangka collaborative governance merupakan strategi kunci untuk meningkatkan kapasitas adaptif kebijakan dan keberlanjutan ekowisata di kawasan konservasi.
Copyrights © 2026