Penelitian ini menganalisis kesiapan guru IPS dalam mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) di sekolah pedesaan dengan studi kasus pada dua SMP negeri di salah satu kecamatan pedesaan Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus multisitus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 6 guru, 2 kepala sekolah, dan 4 siswa, observasi pembelajaran (12 sesi), serta analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan guru masih sangat rendah, terutama pada aspek Intelligent‑Technological Knowledge (I‑TK) dan etika AI. Fenomena kesenjangan pada belief‑practice gap terkonfirmasi: 5 dari 6 guru menyatakan percaya diri menggunakan AI, namun observasi hanya mencatat 1 guru yang pernah menyebut AI di kelas dan tidak ada implementasi sebagai media inti. Tiga kluster hambatan teridentifikasi, yaitu; infrastruktur, yang meliputi; sinyal tidak stabil, bandwidth terbatas, institusional adanya larangan penggunaan HP siswa dan ketiadaan kebijakan AI, serta secara individual, yaitu rendahnya efikasi diri dan dominasi guru senior. Perbedaan akreditasi sekolah tidak berkorelasi signifikan dengan kesiapan AI; faktor penentu utama adalah kepemimpinan kepala sekolah.
Copyrights © 2026