Perempuan penyandang disabilitas menghadapi risiko kekerasan seksual yang jauh lebih tinggi dibandingkan perempuan tanpa disabilitas. Meskipun demikian, akses mereka terhadap bantuan sering kali terhambat oleh berbagai faktor sosial dan budaya yang belum banyak dikaji secara mendalam, khususnya dalam konteks lokal Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi faktor sosial dan budaya yang memengaruhi perilaku pencarian bantuan (help-seeking behavior) pada perempuan disabilitas penyintas kekerasan seksual di Yogyakarta. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan utama terdiri dari dua orang yaitu satu perempuan disabilitas fisik dan satu sensorik berusia 15-49 tahun yang terdaftar di Lembaga X Yogyakarta. Informan kunci meliputi satu konselor. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan triangulasi sumber, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian terdapat dua tema besar yang membentuk perilaku pencarian bantuan informan. Pertama, faktor sosial yang mencakup stigma terhadap disabilitas, marginalisasi dari komunitas, dan kondisi ekonomi yang rentan. Kedua, faktor budaya yang mencakup nilai patriarki, norma kerahasiaan aib dalam budaya Jawa, serta pandangan masyarakat yang cenderung menyalahkan korban. Faktor sosial dan budaya secara nyata menghambat perempuan disabilitas dalam mencari bantuan setelah mengalami kekerasan seksual. Diperlukan intervensi berbasis komunitas yang berpihak terhadap disabilitas dan gender, serta penguatan kebijakan perlindungan bagi perempuan disabilitas di tingkat lokal.
Copyrights © 2026