Kontroversi mengenai hubungan antara sains modern dan nilai-nilai religius telah menciptakan dikotomi epistemologis yang mempengaruhi perkembangan ilmu biologi kontemporer. Perubahan paradigma dalam filsafat sains Islam menunjukkan tren menuju integrasi pengetahuan yang menggabungkan dimensi rasional, empiris, dan spiritual dalam memahami kehidupan. Kondisi darurat epistemologis ini memerlukan solusi berupa rekonstruksi kerangka pengetahuan yang holistik untuk mengatasi fragmentasi antara sains sekuler dan nilai-nilai transendental. Lanskap teoretis menunjukkan bahwa epistemologi Islam klasik membedakan antara 'ilm hushuli (pengetahuan perolehan melalui konseptual-diskursif) dan 'ilm hudhuri (pengetahuan langsung melalui kehadiran eksistensial), namun penerapannya dalam konteks biologi modern masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep hushuli dan hudhuri dalam epistemologi Islam dan mengeksplorasi relevansinya untuk memahami fenomena biologis secara integratif. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-filosofis dengan analisis komparatif terhadap sumber-sumber primer filsafat Islam dan literatur biologi kontemporer. Temuan utama menunjukkan bahwa integrasi hushuli dan hudhuri dapat memberikan kerangka epistemologis yang lebih komprehensif untuk memahami dimensi kehidupan biologis, termasuk aspek teleologis, kesadaran organisme, dan hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Kesimpulannya, paradigma epistemologi Islam menawarkan alternatif yang mampu menjembatani sains biologis empiris dengan pemahaman spiritual-transendental tentang kehidupan, dengan rekomendasi untuk mengembangkan kurikulum biologi integratif berbasis tauhid.
Copyrights © 2025