Kelelahan kerja merupakan permasalahan serius yang sering dialami perawat shift malam, khususnya di ruang intensif dengan beban kerja tinggi dan tuntutan kewaspadaan terus-menerus. Tidur singkat terencana (napping) diyakini mampu memulihkan kewaspadaan dan menurunkan kelelahan, namun bukti empiris mengenai hubungan keduanya di rumah sakit Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara durasi napping dengan tingkat kelelahan kerja pada perawat shift malam di ruang intensif RSUD Petala Bumi Pekanbaru. Desain penelitian adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan teknik total sampling terhadap 30 perawat yang berdinas malam di ICU, HCU, dan NICU. Napping diukur melalui pencatatan durasi mingguan dan dikategorikan cukup apabila totalnya ≥90 menit. Kelelahan kerja dinilai menggunakan kuesioner Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) 30 item yang telah diadaptasi dan memiliki reliabilitas Cronbach's alpha 0,87. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Fisher's Exact dengan tingkat signifikansi α=0,05. Hasil menunjukkan 93,3% perawat memiliki napping cukup, rerata total durasi 1.360 menit per minggu, dan mayoritas mengalami kelelahan rendah (66,7%). Meskipun demikian, 26,7% mengalami kelelahan sedang dan 6,7% kelelahan tinggi. Seluruh perawat dengan napping kurang mengalami kelelahan tinggi. Diperoleh hubungan yang sangat signifikan antara napping dan kelelahan kerja (p=0,000). Faktor lain seperti beban kerja, jenis kelamin, dan kebisingan ruang intensif turut berkontribusi terhadap kelelahan. Diperlukan kebijakan tertulis mengenai napping dan manajemen kelelahan komprehensif untuk meningkatkan keselamatan pasien serta kesehatan kerja perawat.
Copyrights © 2026