Artikel ini bertujuan untuk mengkaji keberadaan al-dakhīl perspektif Ibrahim Khalifah dalam tafsir Zād al-Masīr Fi ‘Ilm al-Tafsīr karya Ibnu Jauzi. Dengan metode kualitatif menggunakan teknik deskriptif-analitis, penulis berhasil menemukan tujuh konteks yang mengandung al-dakhīl al-naqli pada kisah Ashabul Kahfi. Pada konteks lafaz al-raqīm sebagai nama desa, mengandung al-dakhīl al-naqli pertama, yaitu menafsirkan Alquran dengan hadis yang tidak layak dijadikan hujjah, yaitu dengan hadis-hadis lemah dan tidak dibantu dengan hadis-hadis lain yang menaikkan derajatnya ke hadis hasan. Konteks penyebab Ashabul Kahfi Kahfi masuk ke dalam goa, mengandung dua al-dakhīl al-naqli. Pertama, al-dakhīl al-naqli ke-tiga, yaitu menafsirkan Alquran dengan pendapat sahabat mengenai riwayat israiliyyat yang tidak diketahui kebenaran dan kebohongannya. Kedua, al-dakhīl al-naqli ke-enam, yaitu menafsirkan Alquran dengan pendapat tabiin mengenai kisah israiliyyat yang bertentangan dengan nas Alquran. Konteks nama pemimpin Ashabul Kahfi, keadaan tidurnya Ashabul Kahfi, kota Ashabul Kahfi, nama-nama Ashabul Kahfi, dan kepemilikan, nama dan warna anjing Ashabul Kahfi, semuanya mengandung al-dakhīl al-naqli ketiga, yaitu menafsirkan Alquran dengan pendapat sahabat terkait israiliyyat yang tidak ada informasi kebenaran dan kebohongannya dari Alquran dan hadis Nabi.
Copyrights © 2026