Dalam kegiatan operasional sisi udara bandar udara, unit Apron Movement Control (AMC) berperan penting dalam memastikan kelancaran dan keselamatan pergerakan pesawat di area apron dan taxiway. Berdasarkan kondisi eksisting di BLU Kantor UPBU Kelas I Utama Juwata, fasilitas Taxiway Guidance Light belum tersedia sehingga pergerakan pesawat hanya mengandalkan marka, instruksi ATC, dan Follow Me Car. Ketiadaan fasilitas tersebut menyebabkan panduan visual bagi pilot selama taxiing menjadi sangat terbatas pada kondisi low visibility. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi operasional taxiing pesawat pada saat low visibility, mengidentifikasi risiko yang timbul akibat belum tersedianya Taxiway Guidance Light, serta menganalisis kebutuhan pemasangannya dalam mendukung keselamatan penerbangan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, dokumentasi teknis, dan wawancara mendalam terhadap personel operasional terkait. Analisis risiko keselamatan (Safety Risk Assessment) dilakukan dengan mengacu pada matriks toleransi risiko ICAO Document 9859. Hasil penelitian menunjukkan bahwa operasional taxiing tanpa pemanduan visual elektronik pada kondisi low visibility menghasilkan tingkat risiko pada zona Tolerable (dapat ditoleransi dengan mitigasi tambahan). Ketergantungan pada Follow Me Car dinilai kurang efisien dan berpotensi meningkatkan beban kerja petugas serta durasi taxi time. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengadaan instalasi Taxiway Guidance Light merupakan langkah tepat dalam mendukung keselamatan operasional di sisi udara. Meskipun terdapat kendala terkait tingginya biaya investasi dan potensi gangguan operasional saat instalasi, hal tersebut dapat dimitigasi melalui penganggaran bertahap dan pengerjaan di luar jam operasi penerbangan, guna mencapai tingkat keselamatan operasi penerbangan yang acceptable.
Copyrights © 2026