Kebijakan pembelian kemasan kardus pada perusahaan pengolahan kelapa sawit selama ini dilakukan dengan frekuensi pemesanan tinggi, yaitu 53 kali per tahun, tanpa mempertimbangkan proyeksi permintaan aktual maupun persediaan pengaman, sehingga berpotensi menurunkan efektivitas pengendalian persediaan. Penelitian ini bertujuan membandingkan akurasi Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) dan Double Exponential Smoothing (DES) dalam memprediksi permintaan kemasan kardus, serta mengintegrasikan model terbaik dengan Economic Order Quantity (EOQ) untuk menetapkan kebijakan persediaan optimal. Analisis dilakukan terhadap data historis permintaan mingguan melalui identifikasi pola data, pengujian stasioneritas, pemodelan ARIMA dan DES, penilaian kinerja peramalan menggunakan Mean Squared Error (MSE) dan Mean Absolute Percentage Error (MAPE), serta perhitungan EOQ. Model ARIMA (2,1,2) memiliki kinerja lebih baik dibandingkan DES, dengan nilai MSE 17.500.398 dan MAPE 23,7%. Nilai variabilitas permintaan (V) sebesar 0,0111 mengindikasikan pola permintaan bersifat statis sehingga EOQ layak diterapkan. Penerapan EOQ menghasilkan kuantitas pemesanan optimal 39.555 unit dengan frekuensi 14 kali per tahun, menurunkan biaya persediaan sebesar Rp6.450.711,00 atau 48,54% dibandingkan kebijakan perusahaan saat ini. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi model peramalan dengan EOQ mampu meningkatkan efektivitas pengendalian persediaan pada perusahaan pengolahan kelapa sawit.
Copyrights © 2026