Bencana pergerakan tanah merupakan ancaman serius yang berulang di Desa Gumulung Lebak dan Gumulung Tonggoh, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon, mengancam permukiman padat dan lahan pertanian produktif. Kapasitas pemerintah desa dalam manajemen risiko bencana masih sangat terbatas, terutama pada aspek identifikasi zona risiko, perencanaan jalur evakuasi, dan alokasi sumber daya darurat. Penelitian ini bertujuan mengusulkan kerangka penerapan Genetic Algorithm (GA) sebagai instrumen optimasi dalam sistem manajemen risiko bencana pergerakan tanah berbasis kapasitas pemerintah desa. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis konten terhadap literatur akademis, standar BNPB, serta kajian teoritis algoritma genetika. Hasil kajian menunjukkan bahwa GA mampu mengoptimalkan tiga komponen utama yakni pemetaan zona risiko berbasis data geospasial, penentuan jalur evakuasi optimal dengan meminimalkan jarak dan waktu tempuh, serta distribusi sumber daya darurat yang efisien. Model konseptual yang diusulkan mengintegrasikan GA dalam empat tahapan siklus manajemen bencana: mitigasi, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan. Faktor penghambat implementasi meliputi keterbatasan infrastruktur digital di tingkat desa, ketersediaan data geospasial yang akurat, serta kapasitas sumber daya manusia. Penelitian ini merekomendasikan kolaborasi pentahelix antara pemerintah desa, pemerintah kabupaten, perguruan tinggi, sektor swasta, dan masyarakat sebagai prasyarat keberhasilan adopsi teknologi GA dalam tata kelola bencana lokal.
Copyrights © 2026