Artikel ini menganalisis dan membandingkan konstruksi kurikulum pendidikan Islam dalam pemikiran Buya Hamka dan Mahmud Yunus serta menilai relevansinya bagi pendidikan Islam kontemporer. Naskah awal yang cenderung deskriptif-biografis direkonstruksi menjadi kajian komparatif berbasis telaah pustaka integratif. Sumber primer berupa karya-karya utama kedua tokoh yang membahas pendidikan, akhlak, pengajaran, dan lingkungan pendidikan, sedangkan sumber sekunder terdiri atas artikel ilmiah yang dapat diakses secara daring mengenai pemikiran Hamka, Mahmud Yunus, integrasi kurikulum, pendidikan karakter, dan reformasi pendidikan Islam. Analisis dilakukan melalui identifikasi unit gagasan, kategorisasi tema, perbandingan antarkategori, serta sintesis kontekstual. Hasil kajian menunjukkan bahwa Hamka dan Mahmud Yunus sama-sama menolak reduksi pendidikan Islam menjadi transmisi pengetahuan agama semata. Keduanya menempatkan akhlak, kebermanfaatan sosial, keseimbangan dunia-akhirat, peran keteladanan pendidik, dan keterhubungan keluarga-sekolah-masyarakat sebagai unsur penting pendidikan. Perbedaannya terletak pada tekanan konseptual: Hamka lebih kuat pada pembentukan pribadi, kemerdekaan berpikir, adab, perkembangan potensi, dan relasi pendidikan dengan kebudayaan; sedangkan Mahmud Yunus lebih sistematis dalam merumuskan tujuan, struktur isi, metode, jenjang, pengajaran bahasa Arab, integrasi ilmu agama dan umum, serta pembaruan kelembagaan. Sintesis keduanya menghasilkan kerangka kurikulum Islam integratif-humanistik yang mencakup orientasi teologis-etis, integrasi pengetahuan, pedagogi aktif dan bertahap, pembentukan karakter, relevansi sosial, serta ekologi pendidikan kolaboratif. Temuan ini menegaskan bahwa pemikiran kedua tokoh tetap produktif sebagai sumber konseptual untuk merancang kurikulum yang religius, adaptif, tidak dikotomis, dan berorientasi pada perkembangan peserta didik.
Copyrights © 2025