Konsumsi ultra-processed food (UPF) meningkat pesat di negara berpenghasilan menengah dan berkaitan dengan berbagai luaran kesehatan merugikan. Uang saku menentukan daya beli pangan mahasiswa, namun perannya belum banyak diteliti. Adapun tujuan dari penelitian ini Adalah untuk menganalisis hubungan besaran uang saku dengan konsumsi UPF pada mahasiswa. Penelitian merupakan desain cross-sectional pada 165 mahasiswa. Uang saku dikategorikan berdasarkan median, yaitu kurang dari Rp1.000.000 dan ≥ Rp1.000.000; konsumsi UPF dikategorikan sering atau jarang. Analisis menggunakan uji chi-square dengan kemaknaan 5%. Hasil yang didapatkan bahwa sebanyak 52,1% responden tergolong sering mengonsumsi UPF. Proporsi tersebut mencapai 66,3% pada kelompok uang saku Rp1.000.000 atau lebih dibandingkan 35,5% pada kelompok di bawahnya (p < 0,001). Adapun kesimpulannya Adalah besaran uang saku berhubungan bermakna dengan konsumsi UPF. Intervensi gizi kampus perlu menyasar literasi pangan, bukan sekadar keterbatasan ekonomi
Copyrights © 2026