Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) menghadapi tuntutan emosional yang tinggi dalam mendampingi murid disabilitas sehingga kemampuan meregulasi emosi menjadi kompetensi penting untuk menjaga efektivitas pembelajaran dan profesionalisme. Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya lebih menitikberatkan pada hubungan antarvariabel dan pengalaman subjektif guru dalam meregulasi emosi masih jarang dikaji. Penelitian ini bertujuan memahami pengalaman regulasi emosi guru selama proses pembelajaran di SLB YPAC Sumatera Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi transendental dengan melibatkan lima guru yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan metode Colaizzi. Hasil penelitian mengidentifikasi tujuh tema, yaitu ragam emosi yang muncul selama pembelajaran, faktor pemicu emosi, tuntutan pekerjaan, dan kondisi pribadi, pengaruh kondisi emosional terhadap interaksi dan proses belajar, pengalaman psikologis serta fisiologis akibat tekanan emosional, strategi regulasi emosi melalui refleksi diri, pengendalian diri, dan nilai spiritual, sumber dukungan regulasi emosi dari rekan kerja, keluarga, dan lingkungan sekolah, serta makna regulasi emosi sebagai wujud kesabaran, empati, dan profesionalisme dalam mendampingi murid disabilitas. Temuan menunjukkan bahwa regulasi emosi merupakan kompetensi esensial yang mendukung kesejahteraan guru, terciptanya lingkungan belajar yang kondusif, dan peningkatan kualitas layanan pendidikan khusus.
Copyrights © 2026