Penelitian ini berfokus pada konsep maskulinitas dalam masyarakat Jawa yang sering dianggap murni dan alamiah, padahal sejatinya dibentuk oleh kondisi sosial, sejarah, dan ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana kondisi material dan sistem ekonomi-ekologi masyarakat Jawa menstrukturkan peran gender yang melahirkan ideologi maskulinitas, sekaligus mengisi kekosongan pada penelitian sebelumnya yang hanya berfokus pada bentuk maskulinitas. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dengan menerapkan teori Materialisme Budaya dari Marvin Harris (infrastruktur, struktur, suprastruktur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa maskulinitas Jawa dipengaruhi oleh kehidupan agraris dan birokrasi feodal-kolonial. Pada tingkat infrastruktur, kelas bawah (wong cilik) membentuk maskulinitas yang keras akibat tuntutan kerja fisik, sedangkan kelas elite (priyayi) mengadopsi sikap halus karena stabilitas ekonomi. Pada tingkat struktur, birokrasi menuntut ketenangan administratif dari laki-laki priyayi, sekaligus mendomestikasi perempuan. Pada tingkat suprastruktur, nilai "alus" (halus, sabar, sopan) digunakan untuk melanggengkan dominasi kelas atas. Kesimpulannya, maskulinitas Jawa bukanlah kodrat alamiah, melainkan hasil bentukan kondisi material dan relasi kekuasaan untuk mempertahankan hierarki sosial. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya perspektif baru kajian maskulinitas Jawa melalui pendekatan materialisme budaya.
Copyrights © 2026