Fenomena pengangguran intelektual di Indonesia terus meningkat dalam satu dekade terakhir, ditandai dengan ketimpangan antara jumlah lulusan perguruan tinggi dan ketersediaan lapangan kerja formal yang relevan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan tingginya angka pengangguran intelektual serta menelaah adaptasi lulusan terhadap dinamika pasar kerja melalui jalur non-konvensional. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam kepada 10 informan dari kalangan lulusan perguruan tinggi di Jawa Timur dari Desember 2025 sampai Juni 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengangguran intelektual terutama didorong oleh ketidaksesuaian antara kualifikasi akademik dan kebutuhan industri, selektivitas lulusan dalam memilih pekerjaan, diskriminasi usia dan visual dalam rekrutmen, lemahnya soft skills, serta keterbatasan koneksi sosial. Fenomena ini menimbulkan tekanan psikologis seperti rasa minder, malu, kecewa, stres, hingga depresi, terutama ketika lulusan harus menyaksikan rekan sebaya yang tidak mengenyam pendidikan tinggi namun lebih sukses secara ekonomi. Pengangguran intelektual merupakan permasalahan multidimensi yang membutuhkan respons holistik dari pemerintah, institusi pendidikan, dan dunia industri untuk menciptakan ekosistem kerja yang inklusif, adaptif, dan manusiawi.
Copyrights © 2026