Penelitian ini mengeksplorasi ekosistem transmisi bahasa Wolio pada masyarakat pesisir Kota Bau-bau di tengah masifnya tekanan modernisasi. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, kajian ini menolak ekstraksi data yang mekanis dengan mengadopsi paradigma akademik asubsisten, di mana proses penelitian diposisikan sebagai upaya etis untuk merawat makna dan suara autentik komunitas. Data naratif yang dihimpun dari lapangan dianalisis secara struktural dan spasial menggunakan perangkat lunak MAXQDA 24. Hasil penelitian mengungkap empat temuan fundamental: (1) internalisasi filosofi budaya, seperti nilai Pobinci-binciki kuli, beroperasi sebagai poros utama yang mendikte etika dan nilai bahasa Wolio; (2) pewarisan bahasa tidak bersifat instruksional, melainkan tumbuh secara organik melalui pola komunikasi keluarga yang diikat oleh kuatnya solidaritas sosial; (3) praktik ritual pesisir berfungsi sebagai benteng resiliensi terakhir yang menjaga kemurnian struktur bahasa dari arus profan modernitas; dan (4) konsistensi penggunaan bahasa serta kepatuhan pada etika tutur di ruang publik dan domestik menjadi prasyarat mutlak bagi keberlanjutan identitas. Disimpulkan bahwa daya tahan bahasa Wolio melampaui urusan pelestarian linguistik semata; ia merupakan praksis perlawanan kultural yang multidimensi, yang keberhasilannya sangat bergantung pada kedisiplinan komunitas dalam merawat memori kolektif dan martabat manusia pesisir.
Copyrights © 2026